Renungan di Franz Schdmit Strasse

Ditulis ditengah Cuaca 1 derajat celcius. Hari-hari di Ferrengasse Strasse 8 distrik Ortenau serasa seimbang, begitulah kehidupan di Jerman, tidak terlalu banyak irama, tapi mungkin air yang beriak juga ingin segera tenang. Tapi saya rindu saat dimana riak riak itu bergelombang.

Banyak momen telah saya lewatkan dan tidak pernah saya tuliskan, saya bahkan tidak mengira saya akan bisa menulis lagi malam ini setelah sehari sehari-hari bercengkrama dengan situasi yang kadang tak menceriakan dengan formula-formula yang saya pikir para penemunya telah mengubah wajah dunia, terutama wajah sosial. Saya ingin menjadi sama bermanfaatnya.

Selamat tahun baru, selamat ulang tahun, selamat Natal, dan sendu duka karena melihat orang-orang yang mengaku Islam menambahi dirinya sebagai teroris tepat 2 minggu setelah saya meninggalkan kota Paris. Semoga tahun ini kita dapat lebih baik tetapi juga dapat lebih sabar atas semua cobaan yang menimpa kita, dan mencoba menjadi lebih bijak dari situasi ini.

Banyak manusia bisa menguasai berbagai macam ilmu pengetahuan, tapi sayang dia jadi besar kepala, banyak yang tidak bisa menguasai pengetahuan tapi sayang merasa bangga dengan kebodohannya, banyak yang gampang sekali menangis padahal banyak rakyat di Somalia yang tidak makan.

Malam ini saya sedikit relaksasi sebelum melakukan rutinintas belajar yang sungguh tidak ada habisnya dan kadang bikinĀ Kopfschmerzen. Saya baca beberapa news feed dari berbagai macam interaksi orang di media sosial, terutama orang-orang populer tapi tidak banyak orang yang tahu yang mudah dikenali karena idealisme atau jalan hidup yang dia yakini benar.

Ada hal yang membuat saya malu malam ini “Kalau mau dapat uang atau kebanggaan lebih, sama adek-adek saya aja, jangan sama saya, soalnya saya kerja buat orang banyak, bukan buat diri sendiri. Makanya saya bakal jadi orang yang miskin yang gak punya apa-apa, tapi selalu merasa paling kaya sedunia, karena bukan buahnya yang saya ambil, tapi menumbuhkan pohonnya yang menjadi berarti buat saya. ”

Kadang memang klise tapi entah kenapa ada saja orang yang melakukan hal baik seperti ini. ADa saja orang gila yang masih idealis. Saya kadang sering lupa untuk berterimakasih pada Tuhan, lupa untuk bersyukur, kadang lupa untuk memikirkan orang lain lagi, itulah hal yang belum saya temukan asiknya di Jerman. Saya belum menemukan organisasi yang cocok untuk saya di 3 bulan ini. Tempat dimana saya bisa mengasah jiwa saya menjadi orang-orang yang peka dan peduli. Dari semua keindahan , kepedulian adalah salah satu hal yang terindah didunia ini setelah melihat terbenam bulan dan meresapi hangat mentari.

Hubungannya organisasi dengan berbagi adalah disana kita bisa belajar berbagi dan mengasah kepekaan terhadap manusia. Saya benar-benar ingin menyentuh manusia, berorientasi pada manusia, benar-benar ingin tahu bagaimana mereka bersikap, tapi saya juga tahu bahwa rutinitas yang saya jalani akan sangat bermanfaat jika saya kembalikan pada niat yang hanya mengabdi pada kepentingan banyak.

Semoga ini adalah bagian tersusah tapi bisa dikerjakan dan bukan bagian yang bisa dikerjakan tetapi susah.

Gute-Nacht-Welt, ich will immer daran denken.

Advertisements