Bagaimana saya yang ber Tuhan Seharusnya

belajar ADSPHari ini malam gelap, dingin ditemani sedikit salju  yang turun sedikit-sedikit sambil beberapa angin mendesir. Besok saya ada dua exams Advance Digital Signal Processing dan Interactive Distributed Application. Ujian ADSP adalah ujian saya yang kedua kali dan IDA adalah ujian saya yang pertama kali.

IDA saya hanya berharap saya mendapatkan sedikit lagi keberuntungan karena saya mengerti kemana arah pelajaran ini. Untuk ADSP saya masih mengalami banyak kesulitan, sudah dua bulan ini hampir di setiap akhir minggu saya menghabiskan waktu untuk mencoba terlibat didalamnya. Ada saat berat dimana sepertinya hanya tuhan yang bisa menyelesaikan dan memahami soal ini dengan baik.

Ini artinya saya sedang sedikit down.  Lalu saya bertanya, apa ya yang membuat saya takut?lalu saya berpikir efek buruk yang akan timbul didepan. Saya bisa gagal bla bla bla… dan efek yang akan berkepanjangan jika saya tidak lulus semester ini. Tidak perlu saya ceritakan saya hanya takut ketakutan saya yang sudah saya susun secara sistematis di otak ini akan semakin diketahui oleh malaikat dan dilaporkan kepada Allah.

Saya tau ini hanya masalah kecil yang tidak perlu saya tulis di blog, tapi hal kecil ini memang timbul dan cukup meresahkan. Jika gagal ketiga kalinya pada salah satu mata kuliah maka bisa2 seorang mahasiswa akan di DO, soal-soalnya berstandar tinggi dengan waktu terbatas, dan lagi-lagi dengan mudahnya saya akan menyalahkan passion. Padahal ini bisa jadi bidang yang paling saya passion, kalau kamu kembali ke bidang-bidang lain yang kamu senang juga kamu akan mengulang dari 0 lagi dan hanya akan menambah kesampahan ilmu yang kurang bermanfaat.

Akhirnya lelamun ini endup dengan saya sedikit melibatkan tuhan. Banyak orang menyarankan kepada saya untuk lebih banyak mendekat kepada Tuhan, saya juga kadang kalau tidak punya solusi sistematis atas masalah yang menimpa teman yang sedang curhat kepada saya, saya cuma menyuruh dia menambah ibadah saja.

TUHAN MENYIMPAN RAHASIA YANG INDAH DAN HANYA MENAMBAH TENAGA

Premis utama terbaik untuk sukses adalah bekerja keras. Sukses artinya mampu keluar dari masalah yang dihadapi. Semakin banyak masalah yang dihadapi semakin sukses. Sebenarnya itu saja, determinasi yang tinggi akan membuat orang berhasil dalam keluar dari masalah apapun. Tapi banyak cermah keagamaan mengajarkan kita untuk terus beramal dan menjalankan ibadah tanpa perlu memikirkan solusi dari masalah tersebut. Apakah itu benar?saya juga tidak tau, tetapi dalam bukti empiris diri sendiri bahwa kesuksesan itu hanya orang yang selalu mampu keluar dari masalah.

Jika masalah besar, maka memerlukan tenaga yang besar. Lalu bagaimana cara mendapatkan tenaga yang besar?saya rasa dengan cara berpikir tenang dengan tangan dan kepala yang terus bekerja. Lalu dimana tuhan bekerja?saya merasa saat saya sedang dekat, saya merasa kuat. Jadi Tuhan tidak pernah menyelesaikan masalah kita secara langsung. Kalau semua masalah dia selesaikan secara instan maka akan kacau dunia ini.

APAKAH CARA TUHAN BEKERJA SAMA DENGAN KITA BEKERJA

Saya berpikir untuk menyelesaikan soal matematis elektro tadi saya perlu belajar, lebih keras dan keras, dan mengatasi rasa bosan hidup jauh dari teman baik dan orang tua. Setelah saya berhasil maka saya akan menyelesaikan soal tersebut, lalu saya mendapatkan gelar master yang pantas. Dimana saya memiliki semua keahlian yang disebutkan dengan baik. Professor juga akan menilai hasil pekerjaan saya. Jika salah maka dia tidak mengijinkan saya lulus, jika saya berhasil maka saya lulus.

Lalu apakah Tuhan punya logika yang sama?iya, tapi juga bisa tidak. Dia ciptakan hidup ini dengan cara berpikir manusia tapi tuhan luar biasa, Dia bisa menambah tenaga kita semaunya. Kalau saya terus berdoa memohon lulus ujian dia akan ijinkan pasti, seperti dengan mengirimkan tanda2: saya menjadi semangat setiap hari, keceriaan yang terus menerus dan kemudahan menerima ilmu.

Logika manusia dari A ke D adalah melewati B dan C. kalau logika tuhan bisa jadi A ke D dengan cukup lewat C saja. Selalu ada program akselarasi untuk manusia yang dia sayangi.

 

0 degree end of January 2016

First Lesson When I was Born (Tolerance)

12238381_10205443361509041_4416352057683960147_o

My country Indonesia is the country with the largest Moslem population in the world, not Arab, Syria, Pakistan or Malaysia. We are proud to have had a woman president who led about 249.9 million citizens. Gender equality in Muslim country whose population is tremendously big.

Although we are Muslim, we are more concerned about the togetherness and peace. Governor of Jakarta today which is the capital of Indonesia led by a Protestant Christian named Ahok Chinese descent. Here, the largest Muslim country able to appreciate the differences and promote equality and those number of moeslem were also giving vote for him.

In our country. We speak about 756 different languages, we have native Indonesian looked like Asia and Africa together, but we were able to sit together and engage social and political activities properly. Our country is in the middle of the circum-pacific plate, so that our land is unstable and earthquakes often occur this made disaster in some region. Some society organizations of various layers ranging from religious organizations, youth organizations, environmental organizations, religious organizations and youth together providing assistance.

I still remember when I was in junior high school and it was in 11 September 2001 boombing happen over World Trade Center in USA . We were all shocked by the incident. We are used to seeing bad people everywhere, but we were surprised when the media keeps associate these events with the symbols of Islam or Islam it self. Just because people who become terrorists and using logo which inscribed with Arabic and incidentally the person hook-associate themselves with Islam.

Remember Arabic is not always Islam, and Islam is not the state. In the largest Muslim countries like Indonesia that has a more complex structure of society and are distinguished not only by the religion but also ethnicity and language, we were able to live in peace for years. by this fact, seems impossible that Islam teaches us about terrorism. Even for us when we are dealing with business thing like lending money around 1 euro, we are very careful and taking it seriously to settle down. Seems impossible that Islam teaches us to take human live. The terorrist is not Islam, islam doesn’t teach us evil thing.

My name is Geni isno Murti, Geni was taken from the west which means generation / descent are also at the same time the name of Java which means fire, isno is combination name of my mother & father, and Murti is the name of a Hindu, which means statue, and Murti also taken from Trine, Trine is god of Hindu but murti in general only means to create, maintain, merges nature and its contents. So since I was 7 days old, the first value that my father tought me is tolerance. Although both my parents were Muslims they want me to look at the values of goodness in other religions.

He gave my name with the name of Hindu which is Murti, and Murti was my nick name when I was child, people in my village call me with this name. For us attribute is not important something meaning more to us is substance. For my father name is not important,he cares more about value, Man must live human, being kind and helpful. To achieve all this I belong the values of Islam, although not perfect and still in the learning process. I implement value of Islam that Islam/ muslim are capable of being smart, intelligent, peace-loving, unselfish, loves to help others and make the world a better place. In general this value will be the same as another religion. They teach goodness.

The differences that exist in Indonesia, makes us more adaptable to the whole range of differences in the World. I am in Germany ever lived with Colombian, Polish, Egyptian and I can be really friends with all of them. Muslims are not terrorists, Islam is beautiful, peaceful and friendly.

Today at my University we are going to celebrate International Evening and celebrating the differences. I am feeling proud to be the part of this symbol of progression. Some smart students that study about Engineering to build this world are also capable to live in diversity.

This slideshow requires JavaScript.

 

 

Hal Yang Tidak Pernah Terhenti dalam Summer

CIMG5694

Meminjam istilah popular, sudah 8 purnama di kota Offenburg. Suasana mulai menghangat, mood warga kota mulai membaik. Tiap sore saya melihat mereka bergerak di sisipi senyum-senyum keceriaan. Sebagian dari mereka berenang-renang di Girfin, berlarian di lembah Konztan atau sekedar berteriak 30 menit di Europa Park. Langit-langit kota sejarah dunia ini seperti melukiskan lemparan warga acak yang tersusun sangat menawan.
Hari ini adalah hari libur di Negara bagian Baden Wurtemberg, tetapi seperti biasa saya tidak berlibur. Sekalipun hari ini tidak seproduktif hari hari saat perkuliahan mulai menyibuk tetapi tidak membuat saya tenang untuk berlibur, di tengah beberapa mata kuliah yang masih belum saya mengerti dan waktu jatuh tempo pengumpulan tugas seperti semakin memberikan terror saat lelap malam atau menambah ganjalan di pagi hari.
Berapa kali muncul istilah seperti magnitude, exponensial, lambda dan beberapa kawan akrab mereka yang berkumpul seperti gangster Neo Nazi. Mereka terus membuat saya membuka-buka “mekanikal momentum “ dan sekutunya.
Sepertinya suasana cerah hari ini benar-benar tidak merubah mood saya. Terimakasih Tuhan sesungguhnya dengan begini saya mengerti, bahwa mimpi tidak berhenti setelah tercapai, selalu ada tantangan-tantangan baru di depan.

4 Juni 2015

PenerapanTeknologi Drone di Jerman

Drone di langit jerman

Drone saat berpatroli salju di sekitaran offenburg, Baden Wurtemberg

Saya tulis di bawah suhu 0 derajat menjelang -13 derajat sore tanggal 6 Febuary 2016.

Entah apa yang membuat saya di minggu-minggu ini menjadi sangat gila dengan drone. Jumat yang lalu ketika saya akan pergi ke Freiburg untuk melihat Bundesliga saya melihat sebuah bayangan beterbangan di atas kepala saya. Setelah hujan es mengguyur saya selalu mengamati ada Pesawat Mini terbang di atas daerah Offenburg untuk memantau sesuatu. Tapi saya sangat yakin yang mereka pantau adalah situasi keamanan warga yang berkaitan dengan cuaca yang buruk.

Tepat setelah benda ini muncul truk truk penyapu jalan raya mulai berjalanan hingga setelah saya mengamati lebih jauh tidak ada jalanan utama atau jalanan kecil tapi ramai yang saya lewati ber-Ice. Truk-truk penyapu es tersebut segera menaburkan serbuk garam ke jalan raya agar jalanan tidak licin karena es yang mengeras.

Saya pikir jika metode pemantauan yang efektif seperti ini benar-benar sangat terasa manfaatnya untuk orang yang “terbiasa” menemukan kekacauan dan layanan keamanan yang rendah seperti saya.

Jika kita melihat penerapan teknologi drone di Indonesia jelas mengandung arti tersendiri. Efisiensi dan efektifitas kerja adalah kata yang bisa menggambarkan Drone. Drone bisa memetakan geografi, menyebarkan bibit pertanian, penyiraman lahan pertanian, pemantauan trafik, peningkatan kecakapan fotografi, penggunaan untuk tanggap bencana dan bahkan yang terakhir situs amazon.com sudah meluncurkan drone untuk pengiriman barang.

Saya memprediksi Drone akan sangat buming tahun ini di Indonesia. Semoga semakin banyak implementasi teknologi yang bermanfaat untuk masyarakat luas dari tahun ke tahun.

Tulus

tulus

Hari ini tengah malam sedang persiapan buat ujian yang sedikit membuat Kopfschmerzen. hehe. Seperti biasa mencari inspirasi sejenak dari internet. Saya akan menulis tentang “Tulus”,  yang kebetulan saya liat hari ini dia sedang di Stuttgart masih satu stadt dengan Offenburg yaitu di Baden Wurtemberg. hehe, penting ya? Menurut instagram uda tulus , sepertinya dia lagi membuat video klip untuk lagu “Jangan Cintai Aku Apa Adanya”.

Menurut saya ini orang akan eksis di belantika musik tanah air sampai waktu yang cukup lama. Pertama karena dia sudah terbukti bisa survive dengan perusahaan rekamannya sendiri, dan menciptakan pasar sendiri, memiliki suara yang merdu, dan menciptakan lirik dengan tema-tema yang tidak biasa. Super out of the box.

Saya membaca dari beberapa referensi dan wawancara tentang tulus, bahwa dia memulai karir semenjak kuliah .  Manggung dan bergaul dengan komunitas minat dan bakat yang sama untuk mengembangkan diri juga dilakukan semenjak kuliah, tapi saya yakin dia melakukan hal ini sudah sejak lama. Kalau produk jadinya  kaya uda tulus berarti seharusnya wajib bagi kita yang masih mahasiswa untuk juga mengikuti jalan yang sama. Masuk ke Unit-unit dan teman sepergaulan yang memiliki minat yang sama agar kita dapat lebih berkembang. Mulai membangun link-link yang memungkinkan potensi kita jauh lebih meledak.

Saya suka sama idealisme uda Tulus untuk berjalan di atas kaki sendiri. Saya membayangkan betapa tidak mudahnya proses kreatif tersebut. Mulai dari ngumpulin band, membuat lirik, mengaransemen musik, meyakinkan kakaknya untuk memproduseri musiknya, sungguh bukan urusan yang mudah. Kalau misalnya dia memulai karir di semester ke 6 maka usia star sampai di posisi yang sekarang sudah  sekitar 6 taun. Bukan perkara mudah berjibaku dengan masalah-masalah yang mungkin menerpa saat proses kreatif tersebut,

Kalau ngeliat orang-orang kaya Tulus yang nekat sekali untuk memulai perjuangan, saya jadi berkaca bahwa selama ini saya masih merasa di zona amat sangat nyaman sekali belum bisa memperjuangkan hal yang benar-benar saya sukai.

Ya namanya juga hidup. Hidup sebuah pencarian dan perjuangan. Mencari sisi terbaik dan memperjuangkan agar menjadi hal-hal yang bermanfaat.

Poinnya adalah bagi teman-teman yang baru mau masuk kuliah , jangan ragu-ragu untuk masuk ke dunia yang kita sukai dengan cara masuk ke komunitas-komunitas yang membantu kita berkembang.

Salam perjuangan dari 11 26, Germany timezone. Sukses selalu buat kalian yang juga sedang berjuang meraih cita-cita.

sumber gambar: http://digilive.co.id/images/article/image/471e8pex1k4gh.jpeg

Renungan di Franz Schdmit Strasse

Ditulis ditengah Cuaca 1 derajat celcius. Hari-hari di Ferrengasse Strasse 8 distrik Ortenau serasa seimbang, begitulah kehidupan di Jerman, tidak terlalu banyak irama, tapi mungkin air yang beriak juga ingin segera tenang. Tapi saya rindu saat dimana riak riak itu bergelombang.

Banyak momen telah saya lewatkan dan tidak pernah saya tuliskan, saya bahkan tidak mengira saya akan bisa menulis lagi malam ini setelah sehari sehari-hari bercengkrama dengan situasi yang kadang tak menceriakan dengan formula-formula yang saya pikir para penemunya telah mengubah wajah dunia, terutama wajah sosial. Saya ingin menjadi sama bermanfaatnya.

Selamat tahun baru, selamat ulang tahun, selamat Natal, dan sendu duka karena melihat orang-orang yang mengaku Islam menambahi dirinya sebagai teroris tepat 2 minggu setelah saya meninggalkan kota Paris. Semoga tahun ini kita dapat lebih baik tetapi juga dapat lebih sabar atas semua cobaan yang menimpa kita, dan mencoba menjadi lebih bijak dari situasi ini.

Banyak manusia bisa menguasai berbagai macam ilmu pengetahuan, tapi sayang dia jadi besar kepala, banyak yang tidak bisa menguasai pengetahuan tapi sayang merasa bangga dengan kebodohannya, banyak yang gampang sekali menangis padahal banyak rakyat di Somalia yang tidak makan.

Malam ini saya sedikit relaksasi sebelum melakukan rutinintas belajar yang sungguh tidak ada habisnya dan kadang bikin Kopfschmerzen. Saya baca beberapa news feed dari berbagai macam interaksi orang di media sosial, terutama orang-orang populer tapi tidak banyak orang yang tahu yang mudah dikenali karena idealisme atau jalan hidup yang dia yakini benar.

Ada hal yang membuat saya malu malam ini “Kalau mau dapat uang atau kebanggaan lebih, sama adek-adek saya aja, jangan sama saya, soalnya saya kerja buat orang banyak, bukan buat diri sendiri. Makanya saya bakal jadi orang yang miskin yang gak punya apa-apa, tapi selalu merasa paling kaya sedunia, karena bukan buahnya yang saya ambil, tapi menumbuhkan pohonnya yang menjadi berarti buat saya. ”

Kadang memang klise tapi entah kenapa ada saja orang yang melakukan hal baik seperti ini. ADa saja orang gila yang masih idealis. Saya kadang sering lupa untuk berterimakasih pada Tuhan, lupa untuk bersyukur, kadang lupa untuk memikirkan orang lain lagi, itulah hal yang belum saya temukan asiknya di Jerman. Saya belum menemukan organisasi yang cocok untuk saya di 3 bulan ini. Tempat dimana saya bisa mengasah jiwa saya menjadi orang-orang yang peka dan peduli. Dari semua keindahan , kepedulian adalah salah satu hal yang terindah didunia ini setelah melihat terbenam bulan dan meresapi hangat mentari.

Hubungannya organisasi dengan berbagi adalah disana kita bisa belajar berbagi dan mengasah kepekaan terhadap manusia. Saya benar-benar ingin menyentuh manusia, berorientasi pada manusia, benar-benar ingin tahu bagaimana mereka bersikap, tapi saya juga tahu bahwa rutinitas yang saya jalani akan sangat bermanfaat jika saya kembalikan pada niat yang hanya mengabdi pada kepentingan banyak.

Semoga ini adalah bagian tersusah tapi bisa dikerjakan dan bukan bagian yang bisa dikerjakan tetapi susah.

Gute-Nacht-Welt, ich will immer daran denken.

Wandering in Paris

You say that you love rain, but you open your umbrella when it rains.
You say that you love the sun, but you find a shadow spot when the sun shines.
You say that you love the wind, but you close your windows when wind blows.
This is why I am afraid, you say that you love me too.

-William Shakesphare-